Terimakasih 2014, Selamat Datang 2015!!

Rasanya lama sekali saya tidak ngeblog. Yaa karena rutinas ini yang menuntut. Kalian boleh bilang saya murtad karena jarang ngeblog. Tapi sekali lagi, ini tuntutan rutinitas. Ketambah saya baru saja merasakan indahnya menjadi mahasiswa.

By the way, dihari kedua ditahun yang baru dan bertepatan dengan hari kelahiran, saya mau mereview perjalanan singkat di tahun 2014.

Cekidot..

Ada beberapa resolusi yang sudah terwujud dan ada juga resolusi yang sampai saat ini belum terwujud. Dan entah, saya lupa dengan resolusi yang belum terwujud itu. Baiklah, ini adalah resolusi dan keinginan-keinginan yang tak terduga yang berhasil terwujud ditahun 2014..

1. Belanja online
Yang satu ini mungkin sudah naluriah ada dibenak wanita-wanita. Iya belanja online. Entah dari kapan dan sejak kapan saya suka belanja online, ya seinget saya sih tahun 2014. Waktu itu kali pertama saya ngebet beli buku. Jadilah keseringan sampe sekarang. Meskipun awalnya agak-agak norak :v

2. Kartap
Satu kata mengandung makna itu pasti sudahlah menjadi impian dan keinginan para buruh di endonesia, termasuk saya. Dan puji Tuhan, saya sudah diangkat diperusahaan dimana saya bekerja.
Bangga?? Jelas. Mungkin ini adalah salah satu cara membahagiakan mamak dan ayah 🙂

3. Punya laptop & hape canggih (smartphone)
Ya namanya anak orang gak punya. Jadilah keinginan kita dikorbankan karena itu tadi. Sudah bisa makan enak tiap hari aja ya kudu bersyukur. Ini kok mintanya yang enggak-enggak. Tapi ya, yang namanya tuntutan jaman itu susah. Hati dan perasaan ini yang merasa. Minder, iri, dengki, blablabla.
Syukurlah, karena saya rajin bekerja, saya bisa membeli itu semua dengan keringat saya. Iya, laptop sama smartphone, ben gaul.
Kalau kita sudah bekerja, mau beli apa aja pasti kebeli kok.

4. Nonton film Marmut Merah Jambu
Nah ini, dari kecil sampai usia saya yang segini nih. Sudah jelas bisa dihitung kapan saya mengunjungi tempat yang bernama bioskop. Entah, dikeluarga saya yang kecil nan sederhana ini gak punya selera nonton-nonton film yang agak mahal harganya itu. Kalau ke mall ya hanya seperlunya saja. Tujuan dari rumah beli baju, ya disana hanya beli baju. Sehingga ini mempersulit saya yang ingin menonton film anyar itu. Tapi, Tuhan sangat baik. Pada penghujung tahun kemarin, film ini perdana diputar ditelevisi. Bagus deh.

5. Ngajarin ayah dan mamak belajar sosmed
Ayah dan mamak sudah tak lagi muda, diusia mereka saat ini malah ke-kepo-an yang menghantar mereka membeli satu benda yang bernamakan gadget. Setelah memiliki benda itu, mereka mulai bertanya-tanya. Apa itu whatsapp, line, bbm, facebook?? Apa itu apa??
Kini, mereka sudah bisa membaca status-status yang muncul di sosmed tsb. Alhasil, sekarang saya tidak bisa sembarangan update status disosmed. Bisa-bisa diklarifikasi kan?? :v

6. Status baru, “mahasiswi”
Saya yakin, orangtua mana sih yang gak bangga ngeliat anaknya meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi?? Pasti mereka bangga dong. Setelah mandeg satu tahun lamanyaa, akhirnya saya bisa melanjutkan sekolah yang bernama universitas itu. Dan status baru saya sekarang adalah mahasiswi.. iya, pegawai swasta yang merangkap menjadi mahasiswi.

7. Kendaraan
Yaa.. memang dirumah sudah ada dua kendaraan beroda dua. Tapi karna pekerjaan, ayah merelakan kendaraan kesayangnya untuk investaris karyawannya. Jadilah beliau ambil kendaraan baru beroda dua karna aktivitas dan rutinitas yang menuntut. Dan dipenghujung tahun ini, Tuhan mengabulkan salah satu keinginan kami semua sekeluarga yang lama kami idam-idamkan.. iyaa kendaraan beroda empat. Meskipun barangnya akan dikirim pada tahun ini. Puji Tuhan yaa..

Mungkin itu beberapa resolusi atau keinginan-keinginan yang tak terduga dari sekian keinginan saya dan keluarga yang telah terwujud. Pertama-tama saya mengucap syukur. Kedua, saya gak bermaksud pamer ya. Malah saya mau ngasih motivasi. Jika kita mau bekerja keras, punya niat, apapun keinginan kalian pasti terwujud.
Berusaha, berdoa dan bersyukur. Itu kuncinya. Karna menurut saya, diusia saya yang segini ini nih dan dikit demi sedikit harapan dan keinginan terwujud itu rasanya maknyuss.
Semoga ditahun yang baru ini, semangat baru dan harapan baru yang menjadikan diri ini menjadi lebih baik dari tahun kemarin.
Terimakasih 2014, Selamat Datang 2015..
Yeeaahh..

Happy New Year”
:*

Advertisements

Duka Akhir Tahun

Butiran air yang menggumpal dibalik awan itu sudah tak terbendung lagi..

Awan hitam yang pekat sudah tak kuat lagi membendung ratusan bahkan ribuan butiran air yang mengumpat di balik awan tadi..

Angin kencang menghantar mereka membasahi bumi pertiwi..
Dan akhirnya awan menumpahkan segala emosi  didada..
Mencurahkan gundah gulana, kegelisahan yang kini terjawab sudah..

Tangisan dan teriakan mereka terdengar pilu.. sesak didada..

Bumi pertiwi sedang berduka,

Perih.. perih.. perih..

Mungkin derasnya hujan ini menggambarkan betapa perihnya mereka..
Saat burung merah itu gugur menghantar kepergiannya..

Jam dinding terus berputar..
waktu berjalan cepat..
Tapi ini bukan dipenghujung waktu..
Masih ada harapan untuk melangkah..
Semoga duka ini membawa berkah, seperti hujan yang selalu setia membawa pelangi yang indah..

~Terimakasih~

Seekor singa sedang tidur dengan lelap di dalam hutan, dengan kepalanya yang besar bersandar pada telapak kakinya. Seekor tikus kecil secara tidak sengaja berjalan di dekatnya, dan setelah tikus itu sadar bahwa dia berjalan di depan seekor singa yang tertidur, sang Tikus menjadi ketakutan dan berlari dengan cepat, tetapi karena ketakutan, sang Tikus malah berlari di atas hidung sang Singa yang sedang tidur. Sang Singa menjadi terbangun dan dengan sangat marah menangkap makhluk kecil itu dengan cakarnya yang sangat besar.

“Ampuni saya!” kata sang Tikus. “Tolong lepaskan saya dan suatu saat nanti saya akan membalas kebaikanmu.”

Singa menjadi tertawa dan merasa lucu saat berpikir bahwa seekor tikus kecil akan dapat membantunya. Tetapi dengan baik hati, akhirnya singa tersebut melepaskan tikus kecil itu.

Suatu hari, ketika sang Singa mengintai mangsanya di dalam hutan, sang Singa tertangkap oleh jala yang ditebarkan oleh pemburu. Karena tidak dapat membebaskan dirinya sendiri, sang Singa mengaum dengan marah ke seluruh hutan. Saat itu sang Tikus yang pernah dilepaskannya mendengarkan auman itu dan dengan cepat menuju ke arah dimana sang Singa terjerat pada jala. Sang Tikus kemudian menemukan sang Singa yang meronta-ronta berusaha membebaskan diri dari jala yang menjeratnya. Sang Tikus kemudian berlari ke tali besar yang menahan jala tersebut, dia lalu menggigit tali tersebut sampai putus hingga akhirnya sang Singa dapat dibebaskan.

“Terima kasih Tikus, kamu telah menyelamatkan nyawa saya dari pemburu itu”, kata Singa dengan napa terengah-engah.

“Sama-sama Singa. Terima kasih juga kamu melepaskanku dan tidak memangsaku tempo hari lalu”.

Dari cerita diatas, pernahkah kalian melakukan hal sama dengan apa yang dilakukan oleh si Tikus?? Atau si Singa?? Berbuat baik bagi sesama makhluk hidup? Sesudah itu, apa yang kamu lakukan setelah menerima kebaikan atas perbuatan orang tersebut??

Iya. Jawabannya pasti mengucapkan “Terima kasih” kepada orang tersebut.

thanks

via akusukatomyampedas.blogspot.com

Menurut saya, ini jawaban refleks, bahkan bisa jadi diluar kepala. Dan bagi saya, satu kalimat itu tidak asing lagi bagi makhluk hidup yang ada didunia ini.

Apa sih definisi dari kata “Terima kasih” itu sendiri??

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Terima Kasih adalah rasa syukur. Berterima kasih adalah mengucap syukur dan atau membalas budi setelah menerima kebaikan.

Singkat cerita, saya adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta di pinggiran kota Jakarta. Perusahaan saya masih merintis, karna memang baru dua tahun berjalan. Belum memiliki karyawan yang banyak. Nah seminggu yang lalu, pimpinan perusahaan saya dari Jepang datang ke Indonesia, ada agenda meeting dengan para kontraktor terkait rencana pembangunan pabrik perusahaan saya dikota kecil bernama Cikarang.

Saya, wanita pertama dan akan menjadi wanita satu-satunya diperusahaan saya, mau tidak mau segala perkerjaan yang berhubungan dengan wanita semua saya kerjakan.

Pagi itu, saya membuatkan beberapa cangkir kopi untuk para tamu. Beberapa tamu orang Jepang, dan juga sebagian orang Indonesia. Kebiasaan ini sering dilakukan dipagi dan siang hari setelah makan siang. Satu per satu saya letakkan sebuah cangkir dihadapan mereka persis.

Dan satu hal yang buat saya tersentuh saat mereka bilang, “Arigatoo, Terima kasih Vivi san”. Itu rasanya nyess banget. Kena banget sampai kesini, ke hati. Ternyata saya berguna, meskipun sekadar membuatkan kopi untuk mereka. Ambil segi positifnya bro.

Adalagi contoh seperti ini :

Saya sering kali memperhatikan mbak-mbak yang belanja di supermarket, sebut saja Alfamart atau Giant. Udah kebayang dong, supermarket itu pasti loket antre sekali apalagi ditanggal-tanggal orang gajian, belanja saja tidak cukup ala kadarnya. Alasannya simple, sekalian untuk kebutuhan bulanan.

Pas di loket, saya perhatikan mbak-mbak didepan saya, ia mulai mengerutu karna mas-mas didepannya belanjaannya sampai segunung, yaa karna itu tadi, tanggal gajian. Nah, si mbak-mbaknya ini udah enggak sabar antre lama. Giliran mbak-mbaknya melakukan transaksi, beliau pasang muka cemberut ke kasirnya. Dan membayar total belanja dan menerima uang kembalian tanpa sepatah dua patah kalimat yang keluar dari mulutnya. Boro-boro senyum. Mengucapkan terimakasih saja enggak. Toh, mengucapkan terima kasih ke kasirnya mudah kan? Gratis kok.

Pernah enggak kita berpikir bahwa perkerjaan apapun itu semua sama. Tukang parkir, tukang sapu, mbak-mbak kasir, tukang ojek, dkk. Terus pernah enggak kalian mengucapkan terima kasih ke mereka??

Misalnya, kamu naik ojek setelah sampai ke tempat tujuan kamu bilang gini sama bapak tukang ojeknya, “Pak, makasih ya!”

Atau contoh lebih ekstrim lagi, kamu mengucapkan terima kasih atas cobaan keadaan yang sedang kamu hadapi saat ini.

           via komikbiebo.blogspot.com

Contoh : kita berterima kasih atas semua perkerjaan yang diberikan sama pak bos. Iya, kerjaan segunung. Ambil segi positifnya sajalah. Berarti pak Bos itu sayang sama kita. Beliau memberikan pekerjaan tersebut karna dia tau kita bisa mengerjakannya.

Kita juga harus berterima kasih dengan alam semesta dan isinya, dengan kehidupan dan pencipta-NYA.

terimakasih

                 via avatarcube.com

Sejak saat itu saya jadi berpikir, mudah sekali mengucapkan kata terima kasih. Satu kalimat yang bisa membuat orang menjadi merasa berarti atas segala pekerjaan yang telah mereka lakukan. Tapi kenapa sering kali banyak orang yang sulit mengucapkan satu kalimat itu. Padahal mengucapkannya pun gratis, membuat orang bahagia juga lho. Karna tolak ukur dari kebahagiaan seseorang, makhluk hidup ada didunia ini adalah dengan kita bersyukur dan berterima kasih.

Jadi, sudahkah kamu bersyukur dengan mengucapkan terima kasih hari ini??

Dipanggil untuk melayani (edisi dua)

Pagi ini saya bangun kesiangan. Jam 6 lebih 15 menit. Mamak saya sudah dandan cantik dikaca besar dikamar saya. Dan adik saya paling bungsu dan satu-satunya ini sedang berasyik ria dikamar mandi yang juga satu-satunya ada dirumah ini. Sedangkan bapak saya masih mimpi dilangit ketujuh.

Jam 7 kurang 15 menit, saya beserta keluarga berangkat dari rumah menuju arah Lippo Cikarang, yang jaraknya mungkin kurang lebih ditempuh dengan sepeda motor sekitar 20 menit untuk pemotor kek mamak saya. Karna hari ini adalah hari Minggu, itu tandanya kami akan ibadah.

Sesampai disana sekitar jam 7 lebih 5 menit. Banyak umat juga datang bersamaan dengan kami karna misa dimulai jam 7 lebih 30 menit. Dan saya masih punya spare waktu sekitar 25 menit. Segeralah saya, mamak saya juga bapak saya mencari tempat duduk (baca: kursi baso). Adik saya sudah ngibrit terbirit-birit karna takut terlambat. Iya, dia seorang putri sakristi yang dengan siap sedia melayani altar.

Sesudah mendapatkan tempat duduk saya lalu berdoa. Saya duduk ditempat terjangkau namun masih bisa melihat dengan jelas altar gereja. Memang rasanya gak afdol kalau kegereja gak liat altar pas misa. Dan saat saya membuka mata, saya melihat pemerhati sakristi terlihat tergesah-gesah menatap kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu. Dan saya bisa menebak bahwa beliau sedang mencari putra altar atau putri sakristi. Menurut saya, putri sakristi tidak pernah kekurangan personil saat tugas misa. Berarti ini sedang mencari putra altar, gumamku.

Benar saja. Saat pemerhati menghampiri anak lelaki kecil mungil yaa sekitar kelas lima sekolah dasar.

“Kamu tugas ya?”

“Maaf bu, saya gak pakai sepatu.”

Yaa, memang peraturan disini seperti itu. Mungkin digereja-gereja lain pun sama. Jika mau tugas misa, entah sebagai putra altar, putri sakristi, lektor, prodiakon, bruder plus romo sekalipun itu pakai sepatu.
Dan saya terus mengamati anak mungil itu. Dia terlihat tergesah-gesah juga saat menolak secara halus. Tak lama, sang ayah anak kecil itu datang dan anak kecil itu berbisik kepada sang ayah.
Kemudian gerak tubuh sang ayah itu segera melepaskan sepatunya untuk dipakai si anak kecil mungil tadi. Saya mengambil kesimpulan bawah anak kecil ini punya rasa ingin melayani. Anak kecil itu segera berlari menuju ruang sakristi dengan sepatu yg keliatan agak kebesaran untuk anak seusia kelas lima sekolah dasar. Lima menit lagi misa dimulai.

Please, ini bukan saya sok suci atau apa ya, ini real adanya.
Dan pagi ini, saya disadarkan dengan adegan anak kecil tadi. Betapa luar biasanya ia yang masih usia segitu sudah semangat betul untuk melayani. Rasanya kek ditampar berkali-kali. Bahkan saya sempat iri. Saat saya diusia segitu, saya paling takut dan malu kalau disuruh melayani seperti itu. Dan saya baru terpanggil saat ini. Bahwa melayani itu jauh lebih indah daripada dilayani.
Dan melayani itu gak ada kata terlambat kok.
Sudahkah anda melayani?

Kehilangan gak melulu soal pacar

Hari ini genap tujuh bulan kurang empat hari lamanya saya kehilangan sesuatu dari hidup saya. Sesuatu yang sudah saya anggap kesayangan buat saya.

Pacar?? Bukan. Kenapa??

Karena kehilangan itu gak melulu soal pacar, gebetan, gebetan sahabat dan seterusnya.

Dan sebut saja sesuatu kesayangan itu dengan sebutan “Uwee” (dibaca: U.. Wee). Masih gak ngerti juga??

Uwee

Jaman sekolah

 

Iya betul. Uweeku sayang adalah seekor sebuah botol air minum yang selalu setia setiap saat. Benda kesayangan saya adalah botol air minum. Please, jangan anggap saya gila. Mungkin gak hanya saya saja kan yang seperti itu? 😛

Hampir kurang lebih sekitar tiga tahun lamanya Uwee bersama majikannya (dibaca: saya). Uwee selalu setia disaat saya patah hati karna gebetan pacaran sama gebetan sahabatnya, dan Uwee nangkring manis diatas meja sambil dengerin celotehan majikannya. Ini sudah menjadi kebiasaan.

 

Kini, tak ada lagi botol air minum yang punya kebiasaan nangkring manis diatas meja demi menjadi pendengar yang baik bagi majikannya. Menurut saya selain Uwee banyak yang bisa melakukan hal itu. Tapi bagi saya, kesannya beda.

Kronologis singkat saat saya kehilangan Uweeku sayang : Hari itu weekend tiba. Weekend selalu saya gunakan sebaik mungkin untuk mengembalikan mood saya yang hampir seminggu hilang karena kerjaan (dibaca: kemall, dll). Siang itu Uwee ikut keliling-keliling Cikarang, kota kecil dipinggiran Jakartaah. Namun, Uwee dibawa adik saya karna beliau orangnya hausan. Jadi nangkringlah Uwee ditas adik saya. Kami sekeluarga termasuk Uwee berpergian dengan kendaraan yang hampir semua orang punya, dari rakyat bawah sampai orang politik juga keknya punya (dibaca: motor). Sesampai dirumah, jelas saya mengecek keadaan Uwee ditas adik saya. Dan, hasilnya nihil. Uwee hilang entah kemana.

Kalau ditanya sedih?? Jelas. Secara Uwee itu benda kesayangan paling praktis yang saya bawa kemana-mana. Uwee juga adalah takaran pas untuk tempat minum yang menurut saya elegant dan porsi tubuhnya yang bisa menampung 750ml air mineral. Dan itu cukup buat saya.

 

“Vi, beli lagi aja. Toh sama kan?? Pesen aja merek dan warna yang sama. Gitu aja kok ribet.” Dan kalimat ini yang sering terlontar dari orang-orang disekitar saya.

 

Guys, meskipun Uwee itu hanya sebuah botol minum sederhana yang-bisa-kapan aja saya beli dengan merek, bentuk dan warna yang sama, tentu kenangannya juga pasti akan berbeda. Bukan masalah bentuk, warna, ataupun harga sekalipun. Tapi kenangan dan sejarahnya. Rasanya bersyukur banget kenal Uwee, karna secara tidak langsung hal tersebut mengajarkan saya pentingnya kesehatan. Sayangi ginjalmu 🙂

Uwee.. Semoga saja orang baik yang menemukanmu disana. Ditempat yang tidak ku ketahui dimana itu 🙂

Kehilangan benda kesayangan begitu rasanya, apalagi kehilangan orang yang kita sayangi ?? 🙂

 

Sinta Tak Pernah Sirna..

  Hari itu masih ku nikmati pagi dengan hembusan angin sepoi-sepoi membawa harum tanah sisa-sisa hujan tadi malam. Burung-burung gereja masih riuh turun dari sarang sambil mengais-ais rerumputan mencari makan untuk anaknya disarang. Sesekali kudengar bunyi motor tanda beberapa karyawan gereja datang, memulai hari dengan segala hal yang mesti dikerjakan : mengurus banyak umat paroki yang semuanya menanti untuk dilayani.

Dalam kesunyian doaku, sayup-sayup terdengar namaku dipanggil Pak Parmin, kosterku.
“Romo-romo, ada tamu”.
“Siapa, kok datang pagi-pagi sekali?” sahutku pada lelaki tua yang dengan setia menemaniku menjalani hari-hari sebagai Pastor Paroki disebuah desa seorang diri.
“Wah, kurang tau, Romo. Tapi, sepertinya datang dari kota,” Pak Parmin menjawab apa yang aku tanyakan.
“Loh, kok tahu kalau dari kota?” ucapku
“Lah iya, tampilannya itu loh, cantik, dan.. pokoknya menarik,” kata Pak Parmin menggambarkan sosok tamu pagi itu dengan gayanya yang khas sambil mengerdipkan mata kirinya.
“Oh, yaudah, nanti saya temui, terima kasih,” kataku sambil beranjak menemui tamu yang dari tadi sudah menunggu. Kulangkahkan kaki meninggalkan gereja dan mulai menyusuri ruang pastoran menuju ruang tamu. Rasa penasaran dan heran menemani langkahku, terlebih kehadirannya yang begitu pagi tak seperti layaknya tamu-tamu yang lain. “Mungkin minyak suci,” batinku dalam hati. Aku semakin dekat dengan pintu ruang tamu, mulai terlihat punggung wanita itu dengan tampilan yang berbeda dengan umat didesaku. Bajunya rapi dengan rambut sebahu terurai lepas. Siapa gerangan wanita yang datang sepagi ini, terlebih karna wajahnya memang belum tertangkap oleh mataku.

“Selamat Pagi, apakah ada yang bisa saya bantu?” Tanyaku memulai pembicaraan.

Dengan cepat ia menoleh wajahnya. Kini, dapat kulihat wajah itu dengan jelas. Matanya masih sama, wajahnya juga tak jauh berubah walau kini tertutup polesan bedak. Aku masih ingat betul siapa pemilik wajah itu, wajah dengan segudang kenangan masa muda berbalut romantisme remaja. Kami saling terdiam. Mata kami saling memandang. Dunia seakan turut terdiam memberi ruang bagi kami untuk saling berpandangan dalam kesunyian. Anganku melayang jauh.

***

Kata orang, masa SMA adalah masa dengan bermacam hal yang mengasyikkan. Masa dimana pertama kalinya orang mulai curi-curi pacaran. Mulai mengenal kebebasan, masa penuh angan dan cita akan masa depan. Pengalaman itu jugalah yang aku alami bersama dengan Sinta, gadis cantik teman sekelasku.Wajahnya polos khas gadis pinggiran yang tak banyak mengenal make up. Tawanya renyah meninggalkan lesung pipit dikedua pangkal bibirnya. Matanya bening menyiratkan kelembutan. Dialah gadis yang selama itu mengisi relung hatiku.  Tak kusangka, semua hanya sesaat. Suatu siang ia ucapkan kata yang jauh dari bayanganku.

“Mungkin kita memang tak bisa bersama, pilihanku membuatku tak lagi bisa bersamamu.”
“Apa maksudmu?” tanyaku masih nada terkejut.
”Aku telah memikirkannya sungguh dan keputusanku sudah bulat, selepas SMA aku akan masuk biara,” katanya memberi jawab.

Aku hanya terdiam mendengar apa yang dia katakanya. Bibir ini hanya bergeming. Aku hanya dapat berkata, “sudahlah, kalau itu pilihanmu,” sambil kaki ini melangkah meninggalkanya dengan air mata yang mulai menetes. Selepas SMA, aku kembali menata hidup. Mengumpulkan puing-puing semangat dan harapan yang masih ada. Kulangkahkan kaki menuju kota Jogja, merangkai mimpi dan mengubur dalam kenangan indah bersama Sinta. Tak mudah melupakan cinta pertamaku dan kembali menjalani hidup dengan mimpi dan angan. Tapi hidup harus berlanjut, perlahan aku mulai menerimanya. Mungkin cinta Tuhan lebih besar dari cintaku, semoga dia bahagia dengan pilihan hidupnya.

Aku hidup dengan harapan dan diriku yang baru, tanpa bayang-bayang wajahnya, juga tanpa rasa sesal telah melepasnya merangkai mimpi dalam tembok biara. Kuliahku berjalan baik. Banyak komunitas banyak ku ikuti, hingga akhirnya aku berkenalan dengan satu kongregasi imam di kota ini. Tak banyak memang perjumpaanku dengan mereka. Namun, entah mengapa justru perjumpaan yang singkat itulah membuatku tertarik untuk mengikuti jalan hidup mereka. Perlahan aku mulai bertanya-tanya tentang kehidupan calon imam. Mengikuti live in dan retret panggilan hingga akhirnya niatku bulat. Selepas wisuda aku memutuskan untuk masuk novisiat dan memulai formatioku menjadi calon imam. Saat itu baru kurasakan apa yang mungkin juga dirasakan Sinta kala itu : rasa bahagia dan cinta yang begitu dalam.
Masa formatioku ku lalui dengan lancar; novisiat, kuliah teologi, TOP, dan akhirnya dengan langkah pasti aku menuju altar-Nya menyerahkan diri pada Tuhan.
Bukan karna rasa kecewa putus cinta. Bukan pula karna rasa sesal tanpa batas. Namun, semuanya kulakukan karna cinta yang kurasakan dari-Nya jauh lebih besar.

Selepas tahbisan aku ditugaskan disebuah Paroki pinggiran. Bukan kota dan tidak terlalu pelosok, tidak terlalu ramai, juga tidak terlalu sunyi. Semuanya terasa pas dan nyaman bagiku. Hari-hariku berjalan dengan baik walau hanya seorang diri menjalankan tugas pastoral ditemani seorang koster dan beberapa karyawan paroki yang siap membantuku.

***

Aku masih terdiam dan saling berpandangan dengan tamu perempuanku. Hingga akhirnya kesunyian ditengah-tengah kami pecah dengan celoteh seorang anak kecil memanggil “Mama”. Segera ku palingkan wajahku mencari sumber suara anak itu. Terlihat olehku seorang anak kecil dalam gendongan seorang pria seumurku. Aku masih bingung apa yang sebenarnya yang terjadi, hingga ku beranikan diri,  

“Kamu, Sinta??”.
“Iya betul, saya Sinta, teman SMA Romo 15 tahun yang lalu”, katanya dengan nada yang jauh dari kesan remaja.
Kini, dia lebih anggun dengan nada suara yang lebih berat.
“Lalu, ini anakmu dan itu suamimu??”.
“Iya betul, Romo”, jawabnya masih dengan nada yang sama.
“Bukankah dulu kamu masuk biara?”, tanyaku to the point. “Betul, Romo. Namun, setelah saya masuk biara ternyata bayang-bayang indah dan kenangan indah bersama mantan pacar terekam dan muncul dengan begitu jelas. Saya tak mampu mengusirnya hingga akhirnya ditahun keempat saya putuskan untuk keluar dan mencari mantan pacar saya itu?”.
“Apa?”, kataku dengan nada agak meninggi.
“Betul, Romo. Saya mencari mantan pacar saya namun ternyata saat itu tak mungkin bagi saya kembali bersamanya.”
“Lalu?” tanyaku masih dengan nada kaget.
“Setelah itu saya putuskan untuk kuliah dan bekerja sebagai notaris hingga saya sadar Tuhan lebih mencintai mantan pacar saya. Saya kembali menyusun hidup, melihat kedepan, dan menikah dengan teman sekantor saya ini. Kini, kami bahagia, terlebih dengan kehadiran Yohan malaikat kecil kami ini”.

Aku kembali terdiam tak tahu apa yang harus ku katakan. Aku bingung dengan perasaan apa yang kini aku alami. Namun, yang jelas ada perasaan bahagia tanpa kekecewaan dalam hati. Kini aku tahu dia bahagia.

“Kenapa anakmu diberi nama Yohan, bukankah itu namaku?” ku tanyakan pada suaminya.
“Romo, nama itu kami pilih karena istri saya ingin memberikan nama mantan pacarnya yang istimewa. Istri saya berharap agar anak kami nantinya bisa menjadi anak yamg setia dan tulus mencintai Tuhan juga sesamanya,” jawabnya.

Aku tidak dapat lagi berkata, kukecup anak itu dan kuberkati dia dengan penuh cinta.

  Kentungan, 28 Mei 2014

Markus Juhas Irawan
-Majalah Hidup, edisi 26 tahun ke-68 29 Juni 2014-